Skip to content

Arunika dan Borobudur

Menanti arunika di situs yang pernah menjadi salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia merupakan salah satu pengalaman yang tak terlupakan. Jika Candi Borobudur sejatinya sudah indah, maka arunika menjadikannya nirmala.

Sekitar pukul lima pagi hari, cahaya jingga mulai terlihat di balik Gunung Merapi dan Merbabu. Stupa candi, rumah-rumah, kerumunan siluet pepohonan, dan gunung-gunung berbaris rapi membentuk saf. Harmonisasi alam dan hasil kebudayaan manusia menciptakan keindahan yang paripurna. Itulah saat-saat yang dinantikan para wisatawan.Momen adiwarna ini tidak berlangsung lama, mungkin hanya 20 menit. Wisatawan harus bergegas jika ingin mengabadikannya. Selanjutnya warna jingga itu akan memudar dan hilang.

Walau demikian, wisatawan tak perlu takut kehabisan pemandangan indah. Ketika langit sebelah timur candi memudar, langit sebelah barat candi mulai membiru. Di bawah langit biru tersebut membentang Gunung Sindoro dan Sumbing yang tak kalah eloknya dari Merapi dan Merbabu.Meski indah, untuk menikmatinya ada harga yang tak murah. Sejak 1 Januari 2020, wisatawan lokal harus merogoh kocek sebesar Rp 370.000,- untuk tiket masuk sunrise Borobudur. Sedangkan wisatawan mancanegara, tiketnya dibanderol Rp 500.000,-. Harga tersebut sudah termasuk fasilitas sarapan.

Menurutku harga tersebut terbilang mahal. Andaikan tiketnya lebih murah, maka akan lebih banyak wisatawan yang bisa menikmati keindahan sunrise di Borobudur, khususnya wisatawan lokal. Ditambah lagi tidak ada garansi langit pagi akan selalu cerah. Wisatawan yang sudah membayar mahal kemungkinan akan kecewa bila langit ternyata mendung sehingga keindahan yang dijanjikan tak paripurna.

(Visited 3 times, 1 visits today)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *